Cari Informasi di Blog Ini

RSS

[BTS FF | Love Whisper | Oneshoot]

Title                 : 귀를 기울이면 (Love Whisper)
Author            : Dhea Oktavina Noviyanti (Wattpad @dheaoktavina)
Length            : Oneshoot
Genre              : Romance? Maybe wkwkwk
Main Cast      :          
  • ·         Min Yoon Gi (Suga BTS)
  • ·         Oh Yeon Joo
  • ·         Oh Sehun
  • ·         Lee Hong Joo
  • ·         Shin Eun Ra

Disclaimer      :  Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi saya sendiri. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat, ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Dilarang keras untuk mengcopy atau merepost cerita ini tanpa seizin saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena sejatinya saya hanyalah manusia biasa. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading guys…


*****


Memasuki musim semi, bunga-bunga sakura disekitar kota Changwon di wilayah Jinhae mulai bermekaran. Dengan langkah yang begitu pelan Yeon Joo benar-benar menikmati pemandangan disekelilingnya. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya untuk mengambil gambar Festival Gunhangjae Jinhae, yang baru saja berakhir beberapa menit yang lalu.
            “Saranghae, aku janji akan selalu berada disampingmu”
            “Will you marry me?”
            “Tolonglah untuk selalu bersamaku selamanya”
            “Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?”
            “Aku sangat menyayangimu”
            Belum puas Yeon joo menikmati pemandangan disekelilingnya, tiba-tiba saja suara-suara bisikan yang sangat menyebalkan itu mengganggunya.
            “Aish! Benar-benar mengganggu. Kenapa banyak sekali cinta sejati disini?” Yeon Joo bergumam kesal.
            Tanpa mau berlama-lama lagi, akhirnya Yeon Joo melangkahkan kakinya dengan cepat untuk segera menjauh dari kota Jinhae, sembari memasang earphone dengan suara yang begitu kencangnya.



*****


            Selesai masukkan password pintu rumahnya, Yeon Joo melangkah masuk dan mengganti sepatu yang digunakannya tadi dengan sandal rumahan. Dengan malas, Yeon Joo melangkah naik menuju tangga kamarnya yang berada dilantai dua untuk beristirahat sejenak dan menyimpan tas serta kamera yang selalu ia bawa setiap hari.
            Sedangkan Hong Joo, ibu Yeon Joo. Yang sedang mempersiapkan makan malam di meja makan, hanya menggelengkan kepala melihat anak sulungnya seperti itu. Ia tahu bahwa Yeon Joo pasti lelah dengan keistimewaan yang dimilikinya saat ini, akan tetapi ia yakin keistimewaan yang dimiliki anaknya itu cepat atau lambat pasti akan segera menghilang.
            “Yeon Joo-ya! Sehun-nie! Makan malamnya sudah siap” teriak ibu Yeon Joo dari meja makan.
            Mendengar teriakan ibunya, Yeon Joo langsung bangkit dari kasurnya lalu melangkah menuju pintu kamar dan segera membukannya. Bersamaan dengan itu, pintu yang berada disebelah kanannya juga ikut terbuka, menampilkan sosok seorang pria yang begitu tampan dengan piyama berwarna biru tua yang melekat pas ditubuh atletisnya, belum lagi rambut hitamnya yang terlihat acak-acakan tak beraturan khas seseorang yang baru saja bangun tidur. Yeon Joo yang melihat adiknya berpenampilan seperti itu hanya bisa mendelik kesal. Sedangkan Sehun menatapnya dengan begitu intens.
            “Wae?” ucap Yeon Joo sembari mendongak dan mendekap tangannya didada.
            “Noona, sepertinya saat ini kau sedang datang bulan yah? Tampangmu begitu menyeramkan seperti macan yang sedang kelaparan” balas sang adik dengan terkekeh dan langsung berlari menuju tangga.
            “Mwo?! Ya, Oh Sehun! Aish, dia benar-benar adik yang tidak tau diri” tanpa mau berlari mengejar Sehun, Yeon Joo malah berjalan santai menuju meja makan.
            Sesampainya dimeja makan, Yeon Joo menarik kursi yang berada disamping Sehun dan menatapnya dengan ganas. Sedangkan yang ditatap hanya melebarkan senyumnya sembari mengangkat jari telunjuk dan tengah yang menunjukkan huruf V.
            “Eomma, appa belum pulang?” Tanya Yeon Joo melihat kursi kosong yang berada didepan Sehun.
            “Tadi ditelepon ayahmu bilang dia sedang dijalan, mungkin sebentar lagi sampai” jawab Hong joo sembari menarik kursi yang berada dihadapan Yeon joo.
            Sementara Yeon Joo hanya menghembuskan napas lelah. Biasanya jika kepala keluarga -ayah Yeon Joo- belum berada di meja makan, maka tidak ada satu anggota keluarga pun yang boleh mendahulunya untuk makan. Dan saat Yeon Joo bertanya apa alasan ayahnya tersebut, ayahnya itu malah menjawab “Yah…terserah Ayah”. Menyebalkan bukan? Kini dia tau dimana Sehun mendapatkan sikap menyebalkannya itu.
            “Eomma, apakah tidak ada cara untuk menyembuhkan penyakitku ini?” tanya Yeon Joo.
            “Bukan penyakit Yeon Joo-ya, melainkan keistimewaan” koreksi ibu Yeon Joo.
            “Itu sama saja eomma, sama-sama membuatku terganggu” rengek Yeon joo.
            “Cih, kau sama sekali tidak pantas merengek seperti itu noona” timpal Sehun.
           Mendengar perkataan Sehun yang seperti itu, Yeon Joo menatap Sehun dengan tajam seakan berkata diamlah, sebelum aku benar-benar membunuhmu. Ditatap seperti itu Sehun pun langsung mengatup mulutnya rapat-rapat.
            “Bersabarlah sedikit lagi Yeon Joo-ya, eomma yakin keistimewaanmu perlahan-lahan pasti akan menghilang” Hong Joo berkata sambil menatap lembut Yeon Joo.
            “Geurae. Tapi eomma, si bodoh yang satu ini selalu mamanfaatkanku” tunjuk Yeon Joo kepada Sehun.
            “Ya! noona, aku sama sekali tidak bodoh. Dan apa kau bilang tadi, memanfaatkanmu? Wah… noona, sepertinya kau tidak suka melihatku bahagia ” Balas Sehun dengan angkuhnya.
            “Mwo? Kau itu bodoh. Lagi pula saat ini kau berada di tingkat akhir SMA. Seharusnya kau itu belajar dengan sungguh-sungguh, bukannya memanfaatkanku untuk…asdfghjkl” belum sempat Yeon Joo menyelesaikan perkataannya, lengan Sehun telah lebih dahulu membungkam mulut Yeon Joo.
            Ibu Yeon Joo hanya terkekeh geli melihat pertengkaran kedua anaknya tersebut. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan dibarengi dengan teriakan.
            “Ayah pulang”
            Mendengar suara teriakan Ayahnya pulang, Ibu Yeon Joo segera melangkah menuju pintu untuk menyambut sang Ayah. Sehun pun segera memalingkan wajahnya kearah sumber suara. Melihat lengan Sehun yang mulai mengendur membungkam mulutnya, membuat Yeon Joo tanpa pikir panjang menggigit lengan Sehun.
            Sehun mengaduh kesakitan dan memberikan tatapan tajam kepada sang kakak, Yeon Joo membalas tatapan Sehun seakan mereka sedang berbicara lewat batin.
            “Ya! tanganku sakit” Sehun memberikan tatapan kesakitannya sembari mwnunjukkan lengannya.
            “Itu semua salahmu” Yeon Joo membalas dengan tatapan santainya.
            “Pokoknya jangan sampai ayah dan ibu tahu masalah ini” Sehun menatap Yeon Joo serius.
            “Itu terserah padaku” Yeon Joo tatapan mengejeknya.
            “Noona, kalau sampai ayah dan ibu tahu aku akan…” Sehun memicingkan matanya dengan mengintimidasi.
            “Akan apa?” Yeon Joo menengadahkan dagunya dengan menantang.
            “Ah… ani, ani tidak jadi” Sehun menggelengkan kepalanya.
            Sehun memang selalu kalah dari kakaknya itu. Sebenarnya ia bisa saja melawan, akan tetapi kalau itu dilakukan sekarang, tamatlah sudah uang sakunya nanti. Jadi ia hanya bisa menghembuskan napas pasrah. Sedangkan Yeon Joo malah menampilkan senyum kemenangannya, Sehun tetaplah Sehun adik kecilnya yang penurut seperti anak anjing.
            Makan malam akhirnya bisa berlangsung dengan seru. Keluarga Yeon Joo memanglah bukan menganut keluarga yang begitu serius dan menegangkan. Justru menurut mereka disaat makam malam inilah semua rasa lelah bisa dihilangkan dengan berseda gurau, bukan malah saling diam.



*****


            “Hyung, lihatlah lirik lagu yang baru saja aku buat” Jimin berujar sembari menunjukkan lirik lagu tersebut kepada Suga yang sedang tertidur diatas sofa.
            “ini yang kau sebut lirik? Huh!” Suga hanya melihat lirik itu sekilas lalu melanjutkan tidurnya kembali.
            “Aish, kau ini benar-benar yah. Setidaknya berbohonglah sedikit bahwa lirik yang kubuat ini bagus” Jimin mendengus dengan kesal, lalu ia memilih untuk melangkah menjauhi Suga untuk berkonsenterasi melanjutkan lirik lagu tersebut.
            Suga hanya membalas Jimin dengan dehaman saja. Belum sempat Suga berada dialam mimpinya, suara dering telepon yang berada disaku celananya memaksa ia untuk membuka mata kembali. Tanpa mau melihat siapa nama yang tertera Suga langsung mengangkat telepon tersebut.
            “Yeoboseyo?”
            “Min Yoon Gi, dimana kau? Bukankah seharusnya hari ini jadwalmu berada di studio?”
            “Bisa kau atur ulang jadwalku? Aku masih lelah dan saat ini, aku sedang ingin tidur”
            “Aish, baiklah kalau begitu. Aku memberimu libur sampai besok. Tapi ingat, lusa kau harus menyetorkan lagu baru buatanmu arasseo?”
            “Ne, arasseo PD-nim” Suga hanya menjawab telepon sekenanya, dan memilih untuk melemparkan ponselnya begitu saja diatas meja.
            Jimin yang sedari tadi mendengar percakapan mereka hanya bisa meringis, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila ia yang bersikap seperti itu kepada bos nya sendiri.
            “Daebak, kurasa hanya kau yang bisa bersikap semenyebalkan itu kepada Bang PD-nim. Kalau itu aku, sudah pasti Bang PD-nim langsung menendangku keluar dari agensi” decak kagum Jimin.
            Merasa tidurnya selalu terganggu, Suga memutuskan untuk bangkit dari sofa memakai jaket bomber berwarna army yang sedari tadi tersampir ditangannya, mengambil ponselnya yang berada di atas mejea, dan melangkah menuju pintu untuk keluar.
            “Ya! hyung kau mau kemana?” teriak Jimin.
            “Pergi” Suga membalas teriakan jimin singkat dan dengan cepat tubuhnya sudah tertelan oleh pintu.
            “Aish, aku tahu dia akan pergi. Maksud pertanyaanku tadi, dia akan pergi kemana” gumam Jimin kesal.


*****


            Yeon Joo sedang duduk di atas reruputan hijau sembari membidikkan kameranya kea rah pasangan di depan sana, disekitarnya juga terdapat pohon bunga sakura yang sedang bermekaran indah. Tidak heran bahwa banyak sekali pasangan yang memilih untuk berjalan-jalan untuk sekedar memanjakan mata di sekitar jalan Yeouiso-ro daerah Yeouido.
            “Lihatlah mereka berdua sungguh menjijikan sekali. Bisa-bisanya adikku itu menjadi romantis seperti ini. Kalau saja dia tidak menjanjikan sesuatu untukku, akan ku pastikan saat ini dia sudah dihabisi oleh appa” Yeon Joo memberenggut dengan kesal.
            Kemarin pagi-pagi sekali saat Yeon Joo akan berangkat ke kota Changwon untuk memotret, Sehun datang menghampirinya dan mengatakan bahwa ia akan menembak seorang gadis yang menjadi incarannya selama ini, ia juga meminta agar Yeon Joo tidak mengatakan hal ini kepada kedua orang tua mereka. Karena yang sudah Yeon joo katakan sebelumnya, adiknya saat ini berada ditingkat akhir, dan kecil kemungkinannya Sehun akan dibolehkan memiliki seorang kekasih.
 Yeon Joo sebenarnya tau Sehun mengatakan itu semata-mata bukan untuk meminta bantuannya untuk nanti menyembunyikan hubungan mereka –itu kalau ia berhasil untuk mendapatkan hati gadis tersebut- dan tau apa yang Sehun katakana selanjutnya.
“Noona, aku juga memerlukanmu untuk memeriksa apakah hatiku bekerja atau tidak pada So Min. Karena bila nanti kita sudah tidak bersama lagi, aku tahu bahwa ia akan tetap kembali padaku. Sekali pun ia berada di belahan bumi lain”
Menyebalkan bukan? Itu sama saja Sehun memanfaatkan dirinya. Bisa saja Yeon Joo menolak mentah-mentah permintaan Sehun itu, akan tetapi Sehun sepertinya sudah memberikan persiapan untuk mengambil hati Yeon Joo. Yaitu dengan memberikan sepuluh kupon makan tteokbokki sepuasnya di Hondae Jopok Tteokbokki. Sekedar informasi bahwa Yeon Joo adalah pencinta makan, belum lagi tteokbokki adalah makanan favoritnya.
Dengan terpaksa Yeon Joo menyetujui permintaan Sehun. Tetapi ia sebenarnya juga penasaran bagaimana, Sehun bisa mendapatkan kupon makan sebanyak itu. Yang Yeon Joo tahu, jika ingin mendapatkan kupon makan gratis di Hongdae Jopok Tteokbokki ia harus makan minimal 3 ukuran besar tteokbokki saat itu juga.
Dan disinilah akhirnya Yeon Joo terdampar. Duduk seorang diri, mengambil gambar Sehun yang sedang bermesraan dengan So Min, dan memasang telinganya dengan teliti apakah suara hati Sehun terdengar oleh Yeon joo. Merasa tugasnya sudah selesai, Yeon Joo beranjak dari duduknya memilih untuk berjalan-jalan sebentar untuk melihat Yeouido Spring Flower Festival.
Yeon Joo membidikan kameranya ke berbagai arah. Disisi kiri jalan didirikan stand-stand dengan berbagai jenis makanan yang dijual, dan tepat didepan stand-stand tersebut sedang berlangsung pertunjukkan tradisional korea. Ada juga beberapa orang yang sedang menunjukkan kemampuannya bernyanyi. Itu semua tidak luput dari bidikkan Yeon Joo.
Saat Yeon Joo akan membidik pasangan yang menurutnya begitu lucu. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang menyebut namanya.
“Oh Yeon Joo, aku mencintaimu”
Dengan tersentak kaget, Yeon Joo langsung menjauhkan wajahnya dari kamera, melihat ke sekeliling untuk menemukan suara tersebut. Namun tanpa Yeon Joo sadari tangannya malah menekan tombol kamera yang entah mengarah kemana.
“Suara itu, apa mungkin?” gumam Yeon Joo kepada dirinya sendiri.
“Noona!” teriak Sehun sembari menghampiri Yeon Joo.
Mendengar teriakan adiknya itu, Yeon joo langsung tersadar dari lamunannya, menggelengkan kepala mengatakan bahwa semua itu sungguh mustahil.
“Aku dari tadi mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini”
“Urusanmu dengan So Min sudah selesai?” tanya Yeon Joo.
“Ne, ayo pulang”


*****


            Suga berjalan santai sembari memasukkan kedua lengannya ke saku jaket. Sebenarnya saat ini ia sedang malas untuk pergi keluar rumah, tetapi karena saat ini Jimin berada dirumahnya, dengan terpaksa Suga harus mengorbankan jam tidurnya. Tidak ada salahnya juga ia berada didaerah Yeouido, mungkin Suga bisa mendapatkan inspirasi untuk lagunya nanti.
            Sialnya, belum separuh ia berjalan didaerah ini, banyak para gadis yang langsung menghampiri Suga untuk meminta tanda tangannya. Suga sedikit heran, padahal ia bukanlah seorang idol seperti Jimin, ia hanya seorang produser music yang bekerja untuk idol dibelakang layar, tetapi mengapa banyak dari mereka yang menginginkan tanda tangannya atau bahkan meminta foto.
            Saat Suga mengatakan kepada Jimin apa yang dialaminya selama ini, Jimin malah membalas “Karena kau Suga hyung, memiliki visual seorang idol”. Suga sebenarnya tidak menampik bahwa banyak orang yang mengatakn bahwa ia cocok untuk menjadi seorang idol. Akan tetapi Suga lebih memilih untuk menjadi produser music saja, karena dengan begitu Suga bisa menghasilkan berbagai macam karya tanpa harus dibatasi oleh apapun.
            Setelah selesai meladeni para gadis-gadis itu, Suga menghela napas lega dan segera melanjutkan perjalanannya. Yeouido Spring Flower Festival begitu meriah membuat Suga bisa menyunggingkan sedikit senyumnya, ia sudah lama sekali tidak melihat Festival di musim semi karena kesibukannya.
            Suga memperhatikan sekeliling, begitu banyak orang yang berjalan bersama pasangannya disini. Suga hanya menatap datar pasangan-pasangan tersebut, menurut Suga menjalin suatu hubungan hanya untuk status sementara itu, benar-benar membuang waktu.
            Namun seketika pandangan Suga berhenti pada seorang gadis yang sedang memegang kamera, sesekali ia juga membidikkan kamera tersebut ke arah depan. Sambil terus memperhatikan gadis tersebut Suga bertanya-tanya, rasanya mustahil gadis seperti dia berjalan seorang diri. Suga masih terus memperhatikan gadis tersebut, tanpa Suga sadari bibirnya telah melengkung membentuk suatu senyuman tulus.
            Tepat saat itu juga kamera gadis tersebut mengarah dan tanpa sengaja membidik wajah Suga yang sedang tersenyum. Suga tersentak kaget dengan apa yang barusan terjadi, dengan segera ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
            “Ck, gadis itu bodoh atau apa? Ia memotret seseorang secara diam-diam tetapi Flash kameranya malah dinyalakan” gumam Suga sembari terkekeh geli.
            Suga sesekali melirik gadis itu. Tidak berapa lama kemudian muncul seorang lelaki disamping gadis itu, memberi senyum, merangkul pundaknya, dan kemudian pergi menjauh. Sudah ia duga gadis seperti itu tidak mungkin pergi seorang diri ketempat seperti ini.


*****


            “Wah…aku sama sekali tidak percaya bahwa Sehun bisa seromantis ini?” tanya seorang gadis sambil berdecak kagum melihat foto yang diambil oleh Yeon Joo.
            “Aku pun begitu, padahal selama ini dia cukup menyebalkan bukan?” Yeon Joo berucap sembari meringis mengingat-ngingat tingkah Sehun kepadanya selama ini.
            “Ani. Dia itu hanya bersikap menyebalkan kepadamu saja Yeon Joo-ya”
            “Ya! sekarang kau malah membela anak itu? Aish… sahabat macam kau ini Eun Ra-ya”
            Eun Ra hanya terkekeh geli melihat ekspresi Yeon Joo saat ini. Di hari libur seperti ini biasanya Yeon joo menyempatkan diri menghubungi Shin Eun Ra –sahabatnya sejak SMA- untuk sekedar mengobrol atau melepas rindu. Walaupun mereka berdua tinggal dikota yang sama akan tetapi, sekarang ini mereka mempunyai kesibukkan yang berbeda.
            Yeon Joo yang sekarang ini bekerja sebagai jurnalis disuatu situs online, sedangkan Eun Ra bekerja sebagai pembaca berita di salah satu televisi swasta. Bahkan Sehun berkata bahwa dari segi pekerjaan pun mereka begitu cocok, pantas saja selama ini mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan.
            Eun Ra masih sibuk mengamati hasil foto pada kamera Yeon joo. Memang kemampuan Yeon Joo dalam mengambil gambar tidak bisa diragukan lagi. Pernah pada satu waktu Eun Ra mengusulkan Yeon Joo untuk menjadi fotografer saja, akan tetapi langsung ditolak oleh Yeon Joo. Ia mengatakan bahwa itu bukan fashionnya.
            Pergerakan tangan Eun Ra berhenti, saat ia melihat foto seseorang disana. Ia meneliti foto tersebut dan langsung terpekik kaget.
            “Ya! Yeon joo-ya kapan kau bertemu dengan dia?” tanya Eun Ra dengan antusias.
            “Dia?” Yeon Joo mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti dia siapa yang Eun Ra maksud.
            “Ne, dia lihatlah” Eun Ra memperlihatkan foto tersebut kepada Yeon joo.
            Yeon Joo melihat foto itu bdengan seksama “Aku sama sekali tidak ingat pernah bertemu dengannya”
            “Kau tidak berbohong padaku kan?” Eun Ra memicingkan matanya menatap curiga Yeon Joo
            “Ani, wae?
            “Kau. Sama sekali tidak mengenalinya?” Eun Ra menatap Yeon joo dengan tidak percaya.
            “Memangnya dia itu siapa?”
            “Aish Yeon Joo-ya sebenarnya kau ini hidup di zaman seperti apa. Dia itu Min Yoon Gi salah satu produser musik sekaligus pencipta lagu yang terkenal di Korea, bahkan mungkin sampai ke luar negeri. Tetapi orang-orang lebih mengenal dia dengan sebutan Suga, alasannya karena dia mempunyai kulit yang putih dan senyuman yang manis. Persis seperti gula ” jelas Eun Ra dengan semangat.
            “Biar ku tebak, kau pasti salah satu pengagum dia kan?” tebak Yeon Joo.
            Eun Ra mengangguk antusias “Kau memang yang terbaik Yeon Joo-ya. Jadi, kalau kau bertemu dengannya lagi tolong beritahu aku”
            “Dasar, kemarin itu pertemuan yang tidak disengaja. Jadi mana mungkin ada pertemuan selanjutnya” Yeon Joo terkekeh geli. “Ngomong-ngomong Eun Ra-ya…” lanjut Yeon Joo sembari mengecilkan suaranya .
            “hmmm?” gumam Eun Ra yang masih terfokus memandangi foto Suga.
            “Sebenarnya kemarin, aku mendengar bisikan seseorang yang menyatakan cintanya kepadaku”
            “Mwo?! Kau tidak sedang berbohong kepadaku kan Yeon Joo-ya” Eun Ra tersentak kaget,  memicingkan matanya menatap Yeon Joo dengan serius.
            “Tidak mungkin aku ini berbohong” Yaon Joo berbalik menatap Eun Ra dengan serius.
            “Lalu siapa oragnya?”
            “Kalau itu…aku tidak tau”
            “Mwo?! Bagaimana bisa?’
            “Ya! bisakah kau tidak usah berteriak seperti itu”
            “Mian” Eun Ra terkekeh dengan apa yang barusan saja ia lakukan.
            “Memang keadan kemarin bisa dibilang cukup ramai, akan tetapi seramai apapun itu biasanya aku tidak sulit untuk menemukan bisikan seseorang.” Jelas Yeon Joo.
            “Wah… aku kira hasilnya akan sama. Aku berharap kau bisa segera menemukan laki-laki itu”
            Yeon Joo menghembuskan napasnya dengan pasrah. “Aku harap juga begitu”


*****


            Waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Yeon Joo saat ini sedang berjalan untuk meniki lift, menuju kantornya yang berada di lantai 5. Kemarin setelah pertemuannya dengan Eun Ra, Yeon Joo mendapatkan panggilan dari ketua tim nya yang mengatakan bahwa ia harus datang lebih awal. Dikarenakan ia mendapat tugas mewawancarai seseorang.
             Setelah pintu lift terbuka, Yeon Joo langsung melangkahkan kaki menuju kubikel ketua timnya. Yeon joo memperhatikan sekitar kantornya itu, dan ternyata masih beberapa orang yang sudah mengisi kursi mereka.
            “Annyeong haseyo timjangnim” ucap Yeon Joo seklaigus membungkukan sedikit tubuhnya tanda member hormat.
            Mendengar ada seseorang yang menyapanya, lelaki itu pun menghentikan pekerjaanya dan menatap sang lawan bicara.
            “Ah…annyeong hayeso Yeon Joo-ssi, kau sudah datang rupanya” lelaki itu membalas dengan menganggukan kepalanya, dan tersenyum ramah.
            “Ne, Kang timjang”
            Tae Ho memberikan suatu berkas ke pada Yeon Joo “Didalam berkas itu, sudah terdapat biodata serta pertanyaan yang nanti akan kau gunakan untuk wawancara. Jadi, kau hanya perlu mempelajarinya saja Yeon Joo-ssi”
           “Jinjja? Wah… kau memang yang terbaik timjangnim. Kalau begitu aku permisi sekarang ne” pamit Yeon Joo.
            “Baiklah, semoga kau berhasil Yeon Joo-ssi. Hwaiting!” Tae Ho mengangkat kepalan tangannya tanda memberi semangat kepada Yeon joo.
            Kang Tae Ho merupakan ketua tim yang sangat baik, itu terbukti dari sikapnya yang baik dan sabar dalam mengajarinya berbagai macam hal. Tidak heran Kang Tae Ho menjadi incara para gadis-gadis di kantor ini, akan tetapi Yeon joo sudah menganggap Tae Ho seperti kakak kandungnya sendiri.
            Setelah mempelajari berkas yang diberikan oleh Kang Tae Ho, Yeon Joo beserta tim nya saat ini bergegas menuju tempat wawancara di daerah Myeongdong. Yang Yeon Joo tahu, ia akan mewawancarai seorang produser musik seklaigus pencipta lagu terkenal bernama Min Yoon Gi, karena keikutsertaannya dalam pembuatan lagu untuk comeback idol grup BTS.
            Yeon Joo beserta tim melangkah memasuki rumah yang begitu megah, sampai-sampai tidak hentinya Yeon Joo berdecak kagum atas interior rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya membawa mereka semua ke sebuah ruangan yang mana didalamnya terdapat beberapa sofa, dindingnya dihiasi berbagai macam lukisan yang begitu indah.
            Dengan cekatan timnya membereskan barang-barang yang mereka perlukan untuk mewawancarai lelaki tersebut. Tidak lupa Yeon Joo juga mempersiapkan diri menghafal beberapa bertanyaan yang sempat dibacanya.
            Terdengar suara pintu ruangan dibuka, munculah seorang lelaki yang memakai jas hitam  dilengkapi dengan dasi hitam polkadot putih, tidak lupa rambut hitamnya yang sedikit dikeriting dengan poni yang menutupi dahinya tetapi dibagi menjadi dua. Menambah kesan cool yang lelaki itu berikan.
            Suga melangkah mendekat menuju tempat yang disediakan untuk wawancara. Betapa terkejutnya Suga melihat seorang gadis yang beberapa hari tertangkap basah memotretnya, berdiri didepan sana dengan senyum yang begitu manis, membuat Suga mau tidak mau menjadi sedikit salah tingkah. Dengan cepat Suga menggelengkan kepalanya, menepis pikiran-pikiran aneh itu.
            “Annyeong haseyo Min Yoon Gi-ssi. Saya adalah Oh Yeon Joo yang akan mewawancarai anda” Yeon Joo membungkukan sedikit badannya.
            “Annyeong haseyo Oh Yeon Joo-ssi, bagaimana kalau kita mulai saja wawancaranya. Saya lebih senang jika anda menyebut saya denga nama Suga” ujar Suga sembari tersenyum begitu manis.
            “Ah…nde Suga-ssi” balas Yeon Joo.  
            Wawancara yang mereka berdua jalani, berjalan begitu lancar. Yeon Joo pun menampilkan senyuman puas atas apa yang telah dikerjakannya saat ini. Setelah selesai membereskan barang-barang meraka, Yeon joo beserta tim nya segera pergi.
            Namun secara tidak terduga, lengan Yeon Joo ditarik oleh Suga. Membuat tubuhnya mau tidak mau berbalik menghadap Suga, dan membuat kedua mata mereka bersinggungan. Mereka berdua sama-sama terdiam, meneliti setiap jengkal wajah yang mereka lihat saat ini. secara tidak langsung membuat jantung keduanya berdegup begitu kencang.
            “Oh Yeon Joo, aku mencintaimu”
            Bisikan itu. Bisikan yang sempat Yeon Joo dengar, dan kali ini ia juga kembali mendengar bisikan yang sama, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Membuat Yeon Joo menatap Suga tidak percaya, apa mungkin Suga itu…




Cinta sejatinya?







TAMAT

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[EXOFF | Tell me! What do you want? | Oneshoot]

Title                 : 말해! 원하는게 뭐야? (Tell me! What do you want?)
Author            : Dhea Oktavina Noviyanti (Wattpad @dheaoktavina)
Length            : Oneshoot
Genre              : Romance? Maybe wkwkwk
Main Cast      :          
  • ·        Lee Hyun Jin
  • ·         Park Chanyeol
  • ·         Lee Woo Jin
  • ·         Park Yoora

Disclaimer      :  Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi saya sendiri. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat, ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Dilarang keras untuk mengcopy atau merepost cerita ini tanpa seizin saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena sejatinya saya hanyalah manusia biasa. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading guys…


*****

Hye Jin meletakkan bunga mawar putih yang ia bawa di atas gundukan tanah, yang berada dihadapannya. Ia terus menatap nanar gundukan tersebut, dan tanpa sadar cairan bening mengalir begitu saja membasahi pipi Hye jin.
“Eonni mian. Sudah lima tahun, tetapi aku masih saja menangis saat berada di hadapanmu. Aku tahu bahwa kau sudah berbahagia disana, dan kau pasti menginginkan aku dan oppa berbahagia juga disini, bukan?” Hye Jin tidak kuasa menahan kesedihannya, sampai-sampai ia terus saja terisak. “Eonni, aku hampir saja bahagia sebelum…”
Belum sempat Hye Jin melanjutkan kata-kata nya, ponsel yang berada disakunya berdering dengan nyaring. Hye Jin sempat menyatukan alisnya tanda kebingungan, karena nomor yang mengubunginya merupakan nomor tidak dikenal. Dengan cepat Hye Jin menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya.  
“Yeoboseyo?” 
“Yeoboseyo. Apakah ini dengan nona Lee Hye Jin?”
“Ah…ye, ini benar saya. Nuguseyo?”
“Saya Park Yoora, editor dari penerbit Turtle. Kebetulan naskah cerita anda sudah kami terima dan akan segera kami terbitkan. Akan tetapi sebelum itu, bisakah anda terlebih dahulu datang ke kantor penerbit kami?”
Iya, tentu saja saya akan segera kesana. Gamsahamnida.” Ucap Hye Jin sembari menutup teleponnya. Hye Jin menghembuskan napas lega sekaligus tersenyum senang. Setelah ditolak hampir 10 kali, akhirnya naskah novel yang ia tulis selama ini bisa diterima juga oleh penerbit.
“Eonni, sebentar lagi impianku akan tercapai. Sekali lagi mian, karena kali ini aku tidak bisa melanjutkan ceritaku. Aku janji secepatnya akan kembali lagi.


*****

            Seorang pria dengan gagahnya berjalan diantara banyaknya karyawan yang berlalu-lalang. Namun, tidak sedikit karyawan perempuan yang terpana akan ketampanan pria tersebut. Bahkan karyawan perempuan itu juga berharap suatu saat bisa berjalan berdampingan dengan pria itu. Atau bahkan bisa menggantikan posisi sekretaris pria itu saat ini.
            “Sekretaris Lee apa jadwalku untuk hari ini?” Tanya nya dengan nada datar.
         “anda memiliki jadwal makan siang dengan Direktur Kim dari perusahaan medical Center. Sorenya anda memiliki meeting dengan Direktur Choi dari perusahaan Choi’s Grup. Dan malamnya…” sejenak sekretaris Lee menjeda ucapannya.
             “Malamnya?” Tanya pria itu kembali.
            “Malamnya, Ketua meminta anda untuk makan malam bersama.” lanjut sekretaris Lee.
            Pria itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap sekertaris Lee dengan kaget. “Mwo? Ketua? Ayahku?Waeyo?” pria itu bertanya dengan beruntun.
            “Ah…kalau soal itu saya tidak tahu Direktur Park” balas sekertaris Lee.
            “Aisshh, pak tua itu benar-benar” Chanyeol bergumam dengan kesal, lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya.
            Saat orang tua kalian sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Lalu tiba-tiba mengajak makan malam bersama, pasti kalian akan sangat senang karena dengan begitu kalian merasa diperhatikan bukan? Namun lain hal nya dengan Park Chanyeol. Ia justru akan sangat bahagia jika makan malam itu tidak dilakukan, karena jika ayahnya mengajak Chanyeol pasti akan ada sesuatu hal yang diinginkan ayahnya tersebut.
            Padahal ibu dan kakaknya tidak menuntut Chanyeol apapun, dan selalu mengerti akan hal apa saja yang ingin dilakukannya. Tetapi mengapa pak tua itu… aishhh Sehun benar-benar muak membicarakannya.
            Diwaktu senggang seperti ini yang dilakukan Sehun hanyalah memandang foto yang terpajang indah dihadapannya. Foto tersebut adalah dirinya yang sedang merangkul mesra seorang wanita dengan senyuman cantik, yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
            “Hye Jung-ah…mianhae” ucap Chanyeol dengan lirih sembari terisak.


* ****

            “Sekali lagi selamat bergabung bersama kami Hye Jin-ssi. Sampai bertemu besok.” ucap Sohye dengan ramahnya.
“Gamsahamnida, Kalau begitu saya permisi dulu Yoora-ssi, sekali lagi terimakasih atas bantuannya.” Balas Hye Jin dengan ramah sembari menganggukan kepalanya.
Begitu keluar dari gedung penerbit, Hye jin segera melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat. Ia tidak henti-hentinya memasang senyum bahagia, namun senyuman itu segera lenyap saat mobil sport hitam berhenti tepat disebelahnya.
Tanpa menunggu sang pengemudi keluar Hye Jin mempercepat langkah kakinya bahkan ia sempat ingin berlari, sebelum lengannya dicekal oleh sang pengemudi tersebut.
“Ya! Lepaskan tanganku” ucap Hye Jin berteriak marah.
“Ani, kalau aku melepaskannya kau pasti akan kabur lagi” balas pria tersebut.
“Ya! Park Chanyeol!” bentak Hye jin. 
“Wah… aku benar-benar rindu dengan bentakkan mu itu” Chanyeol tersenyum penuh kemenangan.
“Aisshh…pria ini benar-benar” Hye Jin mendengus dengan kesal, saat ia tidak untuk keluar dari jeratan seorang Park Chanyeol dengan mudah nya.
Saat menelusuri daerah sekitar, tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah ide. “Omo! Chanyeol-ah, lihatlah bukan kah itu Toben anjingmu?”
“Tidak mungkin, kau pasti mencoba untuk memodohiku lagi kan?” Chanyeol menatap Hye Jin dengan sarkatis.
“Ani. Lihatlah itu benar-benar Toben” Hye Jin menatap Chanyeol dengan penuh keyakinan.
Ditatap seperti itu oleh Hye Jin, Chanyeol pun segera membalikan badan untuk melihat kebenarannya. Betapa terkejutnya Chanyeol saat melihat anjing kesayangannya dibawa oleh seorang wanita. Tanpa pikir panjang sehun pun menghampiri wanita tersebut dan melepaskan cekalan tangan Hye jin.
Hye Jin yang melihatnya pun langsung terperangah. Ia tidak menyangka Chanyeol akan benar-benar mempercayainya lagi, setelah sebelumnya sempat beberapa kali ia tipu. Tanpa mau melihat kelanjutannya seperti apa, dengan tergesa Hye Jin berlari menuju halte. Betapa beruntungnya Hye Jin saat sampai di halte tersebut bus yang menuju rumahnya pun langsung datang, jadi ia tidak perlu susah payah untuk menunggu.
Sementara Chanyeol masih mengejar sang wanita yang membawa anjingnya tersebut. Saat hanya beberapa meter lagi menuju wanita tersebut, Chanyeol pun menghentikan langkahnya dan memperhatikan wanita itu dari bawah hingga atas. Sepertinya Chanyeol mengenal wanita itu.
“Ya! Yoora noona” panggil Sehun dengan lantang.
Yoora menghentikkan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
“Oh ternyata kau Chalyeol-nie, wae?”
“Sejak kapan rambutmu menjadi pendek seperti itu, dan lagi mengapa kau membawa Toben keluar?” bukannya menjawab pertanyaan Yoora, Chanyeol malah berbalik bertanya.
“Bagaimana. Bagus tidak?” ucap Yoora sembari mengibaskan rambutnya. “Aku bosan dengan rambut panjang jadi aku memotongnya. Ah… untuk masalah Toben kau tenang saja, aku hanya mengajaknya jalan-jalan”
Chanyeol mengacak rambutnya sambil menggeram dengan kesal, bisa-bisanya ia tidak mengenali kakaknya sendiri. Hanya karena seorang wanita mempunyai rambut yang berbeda, bukan berarti wanita itu sulit untuk ia dikenali bukan? Memikirkan hal itu Chanyeol jadi teringat Hye Jin.
Tunggu dulu Hye Jin? Ah, Chanyeol hampir melupakan wanita yang satu itu. Tanpa membalas kata-kata kakaknya, Chanyeol dengan cepat berlari menuju tempat ia bertemu Hye Jin tadi. Sedangkan Yoora hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena kelakuan adiknya yang tidak sopan itu.
Dengan napas yang masih terengah-engah Chanyeol memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan Hye Jin. Tetapi sialnya lagi-lagi Chanyeol harus kehilangan Hye Jin.


*****

            Pagi ini udara terasa lebih dingin dari biasanya. Membuat Hye jin terus meringkuk diatas kasurnya sembari menggulung dirinya dengan selimut yang begitu tebal. Sepertinya musim dingin akan segera tiba pikir Hye Jin.
            Pintu kamar Hye Jin terbuka begitu saja, menampilkan sosok pria jangkung yang begitu tampan diambah pria itu menggunakan setelan jas yang melekat pas dibadannya. Pria itu menghembuskan napas kesalnya, karena masih melihat adiknya yang tidak kunjung bangun dari tempat peristirahatannya.
            “Ya! Lee Hye Jin bangun! apakah kau akan tidur saja seperti itu?” Woo Jin berusaha membangunkan Hye Jin dengan teriakan nya.
            Sedangkan Hye Jin hanya membalasnya dengan bergumam tidak jelas saat kakak laki-lakinya itu membangunkannya.
            Melihat tidak ada pertanda adiknya itu terbangun. Woo Jin meraih segelas air yang berada diatas nakas disamping tempat tidur Hye Jin, dan langsung menyiramkannya pada wajah Hye Jin yang  masih tertidur. Dibangunkan dengan cara seperti itu Hye Jin terjengkit kaget dan langsung mendelik tajam kearah kakak laki-lakinya tersebut.
            “Cepatlah bersiap, bukankah kau sudah mempunyai janji dengan penerbit itu. Jika sudah, aku menunggumu dimeja makan” ucap Woo Jin dan langsung pergi meninggalkan Hye Jin yang masih belum pulih dari rasa kantuknya.
            Kesal, Hye Jin mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu melihat keadaan kasurnya yang begitu mengenaskan. “Aisshh… lihatlah kasurku jadi basah seperti ini. Pria itu benar-benar menyebalkan, wajahnya saja yang mirip dengan Woo Jin Wanna One. Tapi kelakuannya, melebihi setan!”
            Tanpa mau berlama-lama memandangi kasurnya. Hye Jin langsung mengambil langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menuju kantor penerbit.
            Saat sudah memasuki pintu kantor, Hye Jin melihat mobil Chanyeol berhenti tepat didepan kantor penerbitnya. Hye Jin mengernyit heran, pasalnya ia yakin Chanyeol kemarin tidak melihatnya keluar dari kantor ini.
            Melihat Chanyeol keluar dari mobilnya, Hye Jin memilih untuk langsung bersembunyi diantara pot-pot besar yang berada di dekat pintu masuk. Hye Jin terperangah dengan apa yang dilihatnya, bukan penampilan Park Chanyeol yang terlihat menawan. Namun, siapa yang ikut turun dari mobil pria tersebut.
            Seseorang itu ialah Yoora-nim editor yang saat ini membantu Hye Jin untuk menerbitkan novelnya. Tapi tunggu dulu, apa sebenarnya hubungan mereka? Apa mungkin mereka sepasang kekasih? Tapi rasanya itu sangat tidak mungkin. Karena pada dasarnya Park Chanyeol masih…
            Ah, Hye Jin ingat sekarang bukankah Yoora-nim dan Chanyeol mempunyai marga yang sama? Hye Jin segera saja membuka ponselnya untuk mencari identitas Yoora-nim yang kemarin sempat ia minta, namun belum sempat ia baca. Dan untuk kedua kaliya Hye Jin terperangah dengan apa yang sedang dibacanya.

            Nama: Park Yoora
            Jabatan: Direktur sekaligus Editor dari penerbit Turtle
            Pendidikan terakhir: Lulusan terbaik dari Seoul National University
            Mempunyai seorang adik yang bernama Park Chanyeol, CEO dari PCY GROUP 

            Hye jin tidak habis pikir, dunia seolah sedang mempermainkan hidupnya saat ini. Disaat ia sedang berusaha untuk menjahui Park Chanyeol, tapi mengapa saat ini justru ia merasa begitu semakin dekat dengan pria itu. Secepatnya Hye Jin harus membereskan masalahnya dengan Chanhyeol, itu harus.


*****

            Malam sudah semakin larut, sedangkan Hye Jin masih duduk termenung di halte bus yang berada di dekat kantor penerbitnya. Sudah 3 bus yang ia lewat kan, namun ia tidak terlihat ingin menaiki bus-bus tersebut.
            Setelah tadi berbicara dengan Yoora tentang penerbitan novelnya, ia hampir saja ingin membatalkannya. Tapi itu hampir, sebelum Hye jin ingat kalau impiannya sudah berada didepan mata. Dan Hye Jin tidak mau mengambil risiko yang ada.
            Lagi-lagi mobil sport hitam Chanyeol berhenti didepan Hye Jin. Untuk saat ini Hye Jin benar-benar lelah, jadi ia membiarkan saja Chanyeol keluar dari mobil dan mengambil tempat duduk disebelahnya.
            “Tumben sekali kau tidak melarikan diri dariku?” Chanyeol memulai pembicaraan dengan hati-hati.
            Masih dengan tatapan menerawang ke depan, Hye Jin sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Chanyeol barusan. Ia lebih memilih diam dan mendengarkan ucapan Chanyeol selanjutnya.
            Karena Hye Jin tidak kunjung menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Akhirnya Chanyeol memilih untuk melanjutkan ucapannya saja.
            “Jujur saja aku masih tidak tahu, aku mempunyai salah apa terhadapmu. Sejak pertama kali kita bertemu, mengapa kau selalu saja menghindariku? Aku bahkan sempat berpikir, bahwa pada saat itu ada sesuatu yang aneh diwajah tampanku ini, sampai-sampai kau sering sekali menghindariku” Chanyeol terkekeh geli saat ia mengingat perkenalannya dengan Hye Jin yang begitu memalukan. “Tetapi saat aku bercemin, wajahku ini masih keliatan tampan dan sama sekali tidak ada apa-apa.”
            Chanyeol berucap sembari memandang wajah Hye Jin yang berada disampingnya. Karena tidak ada tanda-tanda Hye Jin membalas ucapannya, Chanyeol pun mulai kesal.
            “Ya! Lee Hye Jin…”
            “Ya! Park Chanyeol” dengan cepat Hye Jin memotong ucapan Chanyeol.
            “Kau sama sekali tidak tahu salahmu dimana?” Hye Jin berucap sembari melihat kea rah Chanyeol yang sedang menatapnya dengan intens.
            Dari jarak seperti ini Chanyeol bisa melihat tatapan terluka dari pandangan mata Hye Jin. Padahal selama ini, Chanyeol selalu melihat tatapan kesal dan marah yang selalu diberikan Hye Jin untuknya. Tetapi sekarang, melihat Hye Jin yang tampaknya sedang terluka membuat hatinya benar-benar teriris.
            Chanyeol hanya bisa membalas dengan anggukan kepala, pertanda ia memang tidak tahu dimana letak kesalahannya. Melihat respon yang Chanyeol berikan, Hye Jin justru tertawa sumbang.
            “Ck, kau benar-benar bodoh Park Chanyeol”
            “Yah benar aku memang bodoh! Jadi bisakah kau beritahu aku dimana letak kesalahanku itu?” Chanyeol bertanya dengan tidak sabaran.
            Hye Jin segera memutuskan kontak matanya dengan Chanyeol dan memandang lurus ke depan lagi. Dengan kesal Chanyeol meraih kedua bahu Hye Jin, yang kemudian ia arahkan ke hadapannya.
            “Hye Jin-ah…”
            “Lepaskan aku!” Hye Jin langsung menghempaskan tangan Chanyeol yang memegang bahunya.
           Tanpa dikomando oleh Hye Jin, air matanya langsung mengalir deras disusul oleh isak tangis yang begitu pilu. Membuat Chanyeol tak kuasa ingin membawa Hye Jin kedalam pelukannya. Namun usahanya sia-sia karena sekali lagi, lengannya di tepis oleh Hye Jin.


*****

            Mobil Chanyeol berhenti tepat didepan gerbang rumah Hye Jin. Sedangkan Hye Jin masih mempertahankan pandangan matanya menatap lurus ke arah depan. Chanyeol yang melihat Hye Jin seperti itu terkekeh gemas, dan langsung mengulurkan tangannya untuk menarik pipi Hye Jin yang sedikit memerah karena kedinginan.
            “Ishh, jangan menarik pipiku seperti itu” ucap Hye Jin menepis tangan Chanyeol dengan kasar.
           “Aigo, kau masih saja pemarah yah chagiya” Chanyeol membalas ucapan Hyejin dengan kekehan andalannya.
            “Apa kau bilang barusan?” Hye Jin memandang Chanyeol dengan tatapan membunuhnya.
            “A…ani, aku tidak bilang apa-apa”
            Kini giliran Hye Jin yang terkekeh melihat nada ketakutan yang keluar dari mulut Chanyeol.

Flashback on
            “Kau!  Apa sebenarnya tujuanmu mendekatiku?” tanya Hye Jin masih dengan mempertahankan isak tangisnya.
            “Hye Jin-ah, aku tidak mempunyai tujuan apapun untuk mendekatimu. Aku benar-benar mencintaimu” Chanyeol menjawab dengan penuh keyakinan.
            “Walaupun wajahku ini mirip dengan orang lain?” Tanya Hye Jin kembali.
            “Apa maksudmu?” Chanyeol menatap Hye Jin dengan bingung. 
            “Walaupun wajahku ini mirip dengan Lee Hye Jung?” teriak Hye Jin
            Chanyeol manampilkan tampang terkejutnya, ketika nama mantan kekasihnya yang telah meninggal itu disebutkan oleh Hye Jin. Bagaimana bisa Hye Jin mengetahui tentang Hye Jung? Selama ini Chanyeol selalu menutup rapat keberadaan Hye Jung yang selalu mengisi hatinya. Karena Hye Jung lah kelemahan terbesar seorang Park Chanyeol.
“Apa Hye Jin masih mempunyai hubungan darah dengan Hye Jung?” pikir Chanyeol.
Sejujurnya, Chanyeol tidak menampik saat ia pertama kali bertemu dengan Hye Jin, ia mengira bahwa Hye Jung masih hidup. Chanyeol juga mengira bahwa Tuhan masih begitu baik padanya sehingga Tuhan mengizinkan Hye Jung untuk hidup kembali, dan membiarkan ia untuk menebus dosa-dosanya selama ini.
Sejak hari itu Chanyeol selalu mengganggu dan mendekati Hye Jin. Saat Chanyeol mengenal Hye Jin lebih dekat, ia mengtahui fakta baru bahwa Hye Jung dan Hye Jin adalah dua orang yang berbeda. Chanyeol juga sempat menarik kesimpulan bahwa, mungkin saja Hye Jin masih ada kaitannya dengan Hye Jung.
Itu dapat ia sangka dari marga dan nama mereka yang hampir mirip. Tetapi setelah ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki kehidupan Hye Jin, ia sama sekali tidak menemukan apapun. Hye Jin seperti menutup akses kepada orang lain untuk mengetahui kehidupannya dirinya lebih dalam.
            Masih dengan isakan tangis yang belum juga reda, Hye Jin memilih untuk menceritakan semuanya kepada Chanyeol
            “Lee Hye Jung adalah saudara kembarku. Dia adalah seorang wanita yang baik, cerdas, dan penyayang. Dia merupakan wanita idaman setiap pria yang ada di dunia ini, dan juga menjadi kakak yang terbaik untukku. Kami selalu bertukar cerita setiap hari, entah itu cerita sedih atau senang, kami selalu terbuka satu sama lain…”
Hye Jin menjeda ucapannya untuk mengambil napas sejenak. Sedangkan Chanyeol masih terkejut dengan apa yang dikatakan Hye Jin. Untuk itu, saat ini ia lebih memilih diam, dan mendengarkan kelanjutan ucapan Hye Jin.
            “…puncaknya saat kau menerimanya sebagai kekasih, Hye Jung terlihat sangat bahagia. Dia bahkan bercerita bagaimana perjuangan nya selama ini dalam mendapatkan perhatianmu disekolah. Aku bahkan sempat memakinya karena berani-beraninya sebagai perempuan, dia menyatakan perasaanya terlebih dahulu padamu. Tapi seolah tidak peduli dengan semua makianku, Hye Jung tetaplah Hye Jung yang keras kepala ia tetap ingin mempertahankan hubungannya denganmu. Dan tiba dimana hari kau memutuskannya begitu saja, membuat kebahagian Hye Jung hancur berkeping-keping,”
            Hye Jin menatap Chanyeol dengan kilatan amarah yang begitu tergambar jelas diwajahnya.
            “Saat aku berusaha untuk menemui dan menenangkannya, kau tahu apa yang aku lihat?! Aku melihat sendiri Hye jung tertabrak oleh mobil! Aku sempat ingin menariknya menjauhi mobil itu. Tapi, semuanya terjadi begitu cepat, aku bahkan berfikir semua itu hanyalah mimpi buruk dan aku akan segera terbangun bila fajar sudah datang,”
            “Namun, saat aku berjalan mendekati Hye Jung yang sudah tergeletak tidak berdaya dan mengeluarkan banyak darah, aku…aku…”
            Dengan cepat Chanyeol menarik Hye Jin kedalam pelukannya. Membawa kepalanya untuk bersandar didada bidang Chanyeol. Kali ini Hye jin tidak berontak seperti tadi, karena sejujurnya saat ini Hye Jin benar-benar butuh tempat bersandar. Tidak ada lagi kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut Hye Jin, yang sekarang Chanyeol dengar hanyalah suara erangan tangisan yang semakin menjadi.
            “Mianhae Hye Jin-ah…Jeongmal mianhae” lirih Chanyeol sembari mengusap kepala Hye Jin dengan lembut
            Chanyeol tidak peduli bila pakaian yang dipakainya saat ini sudah basah karena tangisan Hye Jin. Justru yang saat ini Chanyeol pedulikan hanyalah kebahagiaan Hye Jin kedepannya.

Flasback off

            “Seharusnya kau tidak ikut turun dari mobil juga,” Hye Jin melayangkan tatapan kesalnya pada Chanyeol.
            “kalau didalam mobil aku tidak melihat wajah cantikmu dengan jelas,” Chanyeol malah membalas dengan memberikan senyuman andalanya.
            “Baiklah, Baiklah. Kalau begitu aku masuk terlebih dahulu, mengemudilah dengan hati-hati,” kali ini Hye Jin berbicara sembari memasang senyuman manis diwajahnya.
            “Arraseo,” kekeh Chanyeol.
            Belum sempat Hye Jin membuka pintu rumahnya dengan sempurna, Chanyeol justru menarik tangan Hye Jin dan seketika membuat tubuhnya sekali lagi berhadapan dengan Chanyeol. Dari jarak sedekat ini Hye Jin bisa melihat wajah Chanyeol dengan sangat jelas, bahkan saat ini ia tidak segan mengakui bahwa Chanyeol memiliki wajah yang sangat tampan.
Chanyeol semakin mengikis jarak diantara mereka, mambuat Hye Jin menutup matanya. Hanya tinggal beberpa centi lagi bibir keduanya saling bersentuhan.
“Direktur Park, Lee Hye jin apa yang sedang kalian lakukan?”
Tiba-tiba saja suara seorang pria mengagetkan Chanyeol dan juga Hye Jin, membuat kedua sejoli itu segera menjauhkan wajahnya dan bersikap seolah tadi tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
            Merasa telah mengendalikan sikap. Mereka berdua pun menengok ke arah suara yang memanggil.
“Oppa?”
“Sekretaris Lee?” ucap Chanyeol dan Hye Jin secara bersamaan.
“Mwo! Oppa?” Tanya Chanyeol kaget, langsung menggerakkan kepalanya kearah Hye Jin. Sedangkan Hye Jin hanya  membalas dengan anggukan.
Chanyeol tidak menyangka bahwa sekretaris Lee adalah kakak dari Hye Jin dan juga Hye Jung. Kenapa sekretaris Lee tidak mengatakan apapun padanya? Padahal ia yakin selama ini pasti sekretaris Lee sering melihat foto Hye jung yang selalu terpampang di atas meja kantornya.  
“Wah…Takdir macam apa ini?” gumam Chanyeol pada dirinya sendiri.


TAMAT


Keterangan :
-             Eonni                  : Kakak. Panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua.
-        Oppa              : Kakak. Panggilan dari perempuan kepada lelaki yang lebih tua. Bisa juga berarti sayang, tergantung konteks.
-          Yeoboseyo           : Hallo.
-          Mwo                    : Apa.
-          Waeyo                  : Kenapa (Formal).
-         -ah                  : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan keakraban (tidak formal). Hanya boleh digunakan pada teman sebaya atau yang lebih muda. Untuk nama yang berakhiran konsonan.  
-          Mianhae               : Maaf (informal).
-          -ssi                : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan rasa hormat (formal). Hanya boleh digunakan pada oada orang yang lebih tinggi derajatnya atau kepada orang yang kita hormati.
-          Gamsahamnida      : Terimakasih. 
-          Omo                      : Ya ampun.  
-          Ya!                        : Hei!
-          Ani                        : Tidak, bukan (informal)
-      -nie                    : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan keakraban dan kasih sayang.
-          Aigo                     : Aduh.
-          Chagiya                : Sayang.
-          Jeongmal Mianhae : Aku sungguh meminta maaf (informal)

-          Arraseo               : Mengerti

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS