Cari Informasi di Blog Ini

RSS

[EXOFF | Tell me! What do you want? | Oneshoot]

Title                 : 말해! 원하는게 뭐야? (Tell me! What do you want?)
Author            : Dhea Oktavina Noviyanti (Wattpad @dheaoktavina)
Length            : Oneshoot
Genre              : Romance? Maybe wkwkwk
Main Cast      :          
  • ·        Lee Hyun Jin
  • ·         Park Chanyeol
  • ·         Lee Woo Jin
  • ·         Park Yoora

Disclaimer      :  Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi saya sendiri. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat, ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Dilarang keras untuk mengcopy atau merepost cerita ini tanpa seizin saya. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan, karena sejatinya saya hanyalah manusia biasa. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading guys…


*****

Hye Jin meletakkan bunga mawar putih yang ia bawa di atas gundukan tanah, yang berada dihadapannya. Ia terus menatap nanar gundukan tersebut, dan tanpa sadar cairan bening mengalir begitu saja membasahi pipi Hye jin.
“Eonni mian. Sudah lima tahun, tetapi aku masih saja menangis saat berada di hadapanmu. Aku tahu bahwa kau sudah berbahagia disana, dan kau pasti menginginkan aku dan oppa berbahagia juga disini, bukan?” Hye Jin tidak kuasa menahan kesedihannya, sampai-sampai ia terus saja terisak. “Eonni, aku hampir saja bahagia sebelum…”
Belum sempat Hye Jin melanjutkan kata-kata nya, ponsel yang berada disakunya berdering dengan nyaring. Hye Jin sempat menyatukan alisnya tanda kebingungan, karena nomor yang mengubunginya merupakan nomor tidak dikenal. Dengan cepat Hye Jin menghapus air matanya yang terus mengalir di pipinya.  
“Yeoboseyo?” 
“Yeoboseyo. Apakah ini dengan nona Lee Hye Jin?”
“Ah…ye, ini benar saya. Nuguseyo?”
“Saya Park Yoora, editor dari penerbit Turtle. Kebetulan naskah cerita anda sudah kami terima dan akan segera kami terbitkan. Akan tetapi sebelum itu, bisakah anda terlebih dahulu datang ke kantor penerbit kami?”
Iya, tentu saja saya akan segera kesana. Gamsahamnida.” Ucap Hye Jin sembari menutup teleponnya. Hye Jin menghembuskan napas lega sekaligus tersenyum senang. Setelah ditolak hampir 10 kali, akhirnya naskah novel yang ia tulis selama ini bisa diterima juga oleh penerbit.
“Eonni, sebentar lagi impianku akan tercapai. Sekali lagi mian, karena kali ini aku tidak bisa melanjutkan ceritaku. Aku janji secepatnya akan kembali lagi.


*****

            Seorang pria dengan gagahnya berjalan diantara banyaknya karyawan yang berlalu-lalang. Namun, tidak sedikit karyawan perempuan yang terpana akan ketampanan pria tersebut. Bahkan karyawan perempuan itu juga berharap suatu saat bisa berjalan berdampingan dengan pria itu. Atau bahkan bisa menggantikan posisi sekretaris pria itu saat ini.
            “Sekretaris Lee apa jadwalku untuk hari ini?” Tanya nya dengan nada datar.
         “anda memiliki jadwal makan siang dengan Direktur Kim dari perusahaan medical Center. Sorenya anda memiliki meeting dengan Direktur Choi dari perusahaan Choi’s Grup. Dan malamnya…” sejenak sekretaris Lee menjeda ucapannya.
             “Malamnya?” Tanya pria itu kembali.
            “Malamnya, Ketua meminta anda untuk makan malam bersama.” lanjut sekretaris Lee.
            Pria itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap sekertaris Lee dengan kaget. “Mwo? Ketua? Ayahku?Waeyo?” pria itu bertanya dengan beruntun.
            “Ah…kalau soal itu saya tidak tahu Direktur Park” balas sekertaris Lee.
            “Aisshh, pak tua itu benar-benar” Chanyeol bergumam dengan kesal, lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya.
            Saat orang tua kalian sedang sibuk dengan pekerjaan nya. Lalu tiba-tiba mengajak makan malam bersama, pasti kalian akan sangat senang karena dengan begitu kalian merasa diperhatikan bukan? Namun lain hal nya dengan Park Chanyeol. Ia justru akan sangat bahagia jika makan malam itu tidak dilakukan, karena jika ayahnya mengajak Chanyeol pasti akan ada sesuatu hal yang diinginkan ayahnya tersebut.
            Padahal ibu dan kakaknya tidak menuntut Chanyeol apapun, dan selalu mengerti akan hal apa saja yang ingin dilakukannya. Tetapi mengapa pak tua itu… aishhh Sehun benar-benar muak membicarakannya.
            Diwaktu senggang seperti ini yang dilakukan Sehun hanyalah memandang foto yang terpajang indah dihadapannya. Foto tersebut adalah dirinya yang sedang merangkul mesra seorang wanita dengan senyuman cantik, yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
            “Hye Jung-ah…mianhae” ucap Chanyeol dengan lirih sembari terisak.


* ****

            “Sekali lagi selamat bergabung bersama kami Hye Jin-ssi. Sampai bertemu besok.” ucap Sohye dengan ramahnya.
“Gamsahamnida, Kalau begitu saya permisi dulu Yoora-ssi, sekali lagi terimakasih atas bantuannya.” Balas Hye Jin dengan ramah sembari menganggukan kepalanya.
Begitu keluar dari gedung penerbit, Hye jin segera melangkahkan kakinya menuju halte bus terdekat. Ia tidak henti-hentinya memasang senyum bahagia, namun senyuman itu segera lenyap saat mobil sport hitam berhenti tepat disebelahnya.
Tanpa menunggu sang pengemudi keluar Hye Jin mempercepat langkah kakinya bahkan ia sempat ingin berlari, sebelum lengannya dicekal oleh sang pengemudi tersebut.
“Ya! Lepaskan tanganku” ucap Hye Jin berteriak marah.
“Ani, kalau aku melepaskannya kau pasti akan kabur lagi” balas pria tersebut.
“Ya! Park Chanyeol!” bentak Hye jin. 
“Wah… aku benar-benar rindu dengan bentakkan mu itu” Chanyeol tersenyum penuh kemenangan.
“Aisshh…pria ini benar-benar” Hye Jin mendengus dengan kesal, saat ia tidak untuk keluar dari jeratan seorang Park Chanyeol dengan mudah nya.
Saat menelusuri daerah sekitar, tiba-tiba saja ia mendapatkan sebuah ide. “Omo! Chanyeol-ah, lihatlah bukan kah itu Toben anjingmu?”
“Tidak mungkin, kau pasti mencoba untuk memodohiku lagi kan?” Chanyeol menatap Hye Jin dengan sarkatis.
“Ani. Lihatlah itu benar-benar Toben” Hye Jin menatap Chanyeol dengan penuh keyakinan.
Ditatap seperti itu oleh Hye Jin, Chanyeol pun segera membalikan badan untuk melihat kebenarannya. Betapa terkejutnya Chanyeol saat melihat anjing kesayangannya dibawa oleh seorang wanita. Tanpa pikir panjang sehun pun menghampiri wanita tersebut dan melepaskan cekalan tangan Hye jin.
Hye Jin yang melihatnya pun langsung terperangah. Ia tidak menyangka Chanyeol akan benar-benar mempercayainya lagi, setelah sebelumnya sempat beberapa kali ia tipu. Tanpa mau melihat kelanjutannya seperti apa, dengan tergesa Hye Jin berlari menuju halte. Betapa beruntungnya Hye Jin saat sampai di halte tersebut bus yang menuju rumahnya pun langsung datang, jadi ia tidak perlu susah payah untuk menunggu.
Sementara Chanyeol masih mengejar sang wanita yang membawa anjingnya tersebut. Saat hanya beberapa meter lagi menuju wanita tersebut, Chanyeol pun menghentikan langkahnya dan memperhatikan wanita itu dari bawah hingga atas. Sepertinya Chanyeol mengenal wanita itu.
“Ya! Yoora noona” panggil Sehun dengan lantang.
Yoora menghentikkan langkahnya dan berbalik untuk melihat siapa yang telah memanggilnya.
“Oh ternyata kau Chalyeol-nie, wae?”
“Sejak kapan rambutmu menjadi pendek seperti itu, dan lagi mengapa kau membawa Toben keluar?” bukannya menjawab pertanyaan Yoora, Chanyeol malah berbalik bertanya.
“Bagaimana. Bagus tidak?” ucap Yoora sembari mengibaskan rambutnya. “Aku bosan dengan rambut panjang jadi aku memotongnya. Ah… untuk masalah Toben kau tenang saja, aku hanya mengajaknya jalan-jalan”
Chanyeol mengacak rambutnya sambil menggeram dengan kesal, bisa-bisanya ia tidak mengenali kakaknya sendiri. Hanya karena seorang wanita mempunyai rambut yang berbeda, bukan berarti wanita itu sulit untuk ia dikenali bukan? Memikirkan hal itu Chanyeol jadi teringat Hye Jin.
Tunggu dulu Hye Jin? Ah, Chanyeol hampir melupakan wanita yang satu itu. Tanpa membalas kata-kata kakaknya, Chanyeol dengan cepat berlari menuju tempat ia bertemu Hye Jin tadi. Sedangkan Yoora hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena kelakuan adiknya yang tidak sopan itu.
Dengan napas yang masih terengah-engah Chanyeol memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan Hye Jin. Tetapi sialnya lagi-lagi Chanyeol harus kehilangan Hye Jin.


*****

            Pagi ini udara terasa lebih dingin dari biasanya. Membuat Hye jin terus meringkuk diatas kasurnya sembari menggulung dirinya dengan selimut yang begitu tebal. Sepertinya musim dingin akan segera tiba pikir Hye Jin.
            Pintu kamar Hye Jin terbuka begitu saja, menampilkan sosok pria jangkung yang begitu tampan diambah pria itu menggunakan setelan jas yang melekat pas dibadannya. Pria itu menghembuskan napas kesalnya, karena masih melihat adiknya yang tidak kunjung bangun dari tempat peristirahatannya.
            “Ya! Lee Hye Jin bangun! apakah kau akan tidur saja seperti itu?” Woo Jin berusaha membangunkan Hye Jin dengan teriakan nya.
            Sedangkan Hye Jin hanya membalasnya dengan bergumam tidak jelas saat kakak laki-lakinya itu membangunkannya.
            Melihat tidak ada pertanda adiknya itu terbangun. Woo Jin meraih segelas air yang berada diatas nakas disamping tempat tidur Hye Jin, dan langsung menyiramkannya pada wajah Hye Jin yang  masih tertidur. Dibangunkan dengan cara seperti itu Hye Jin terjengkit kaget dan langsung mendelik tajam kearah kakak laki-lakinya tersebut.
            “Cepatlah bersiap, bukankah kau sudah mempunyai janji dengan penerbit itu. Jika sudah, aku menunggumu dimeja makan” ucap Woo Jin dan langsung pergi meninggalkan Hye Jin yang masih belum pulih dari rasa kantuknya.
            Kesal, Hye Jin mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu melihat keadaan kasurnya yang begitu mengenaskan. “Aisshh… lihatlah kasurku jadi basah seperti ini. Pria itu benar-benar menyebalkan, wajahnya saja yang mirip dengan Woo Jin Wanna One. Tapi kelakuannya, melebihi setan!”
            Tanpa mau berlama-lama memandangi kasurnya. Hye Jin langsung mengambil langkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menuju kantor penerbit.
            Saat sudah memasuki pintu kantor, Hye Jin melihat mobil Chanyeol berhenti tepat didepan kantor penerbitnya. Hye Jin mengernyit heran, pasalnya ia yakin Chanyeol kemarin tidak melihatnya keluar dari kantor ini.
            Melihat Chanyeol keluar dari mobilnya, Hye Jin memilih untuk langsung bersembunyi diantara pot-pot besar yang berada di dekat pintu masuk. Hye Jin terperangah dengan apa yang dilihatnya, bukan penampilan Park Chanyeol yang terlihat menawan. Namun, siapa yang ikut turun dari mobil pria tersebut.
            Seseorang itu ialah Yoora-nim editor yang saat ini membantu Hye Jin untuk menerbitkan novelnya. Tapi tunggu dulu, apa sebenarnya hubungan mereka? Apa mungkin mereka sepasang kekasih? Tapi rasanya itu sangat tidak mungkin. Karena pada dasarnya Park Chanyeol masih…
            Ah, Hye Jin ingat sekarang bukankah Yoora-nim dan Chanyeol mempunyai marga yang sama? Hye Jin segera saja membuka ponselnya untuk mencari identitas Yoora-nim yang kemarin sempat ia minta, namun belum sempat ia baca. Dan untuk kedua kaliya Hye Jin terperangah dengan apa yang sedang dibacanya.

            Nama: Park Yoora
            Jabatan: Direktur sekaligus Editor dari penerbit Turtle
            Pendidikan terakhir: Lulusan terbaik dari Seoul National University
            Mempunyai seorang adik yang bernama Park Chanyeol, CEO dari PCY GROUP 

            Hye jin tidak habis pikir, dunia seolah sedang mempermainkan hidupnya saat ini. Disaat ia sedang berusaha untuk menjahui Park Chanyeol, tapi mengapa saat ini justru ia merasa begitu semakin dekat dengan pria itu. Secepatnya Hye Jin harus membereskan masalahnya dengan Chanhyeol, itu harus.


*****

            Malam sudah semakin larut, sedangkan Hye Jin masih duduk termenung di halte bus yang berada di dekat kantor penerbitnya. Sudah 3 bus yang ia lewat kan, namun ia tidak terlihat ingin menaiki bus-bus tersebut.
            Setelah tadi berbicara dengan Yoora tentang penerbitan novelnya, ia hampir saja ingin membatalkannya. Tapi itu hampir, sebelum Hye jin ingat kalau impiannya sudah berada didepan mata. Dan Hye Jin tidak mau mengambil risiko yang ada.
            Lagi-lagi mobil sport hitam Chanyeol berhenti didepan Hye Jin. Untuk saat ini Hye Jin benar-benar lelah, jadi ia membiarkan saja Chanyeol keluar dari mobil dan mengambil tempat duduk disebelahnya.
            “Tumben sekali kau tidak melarikan diri dariku?” Chanyeol memulai pembicaraan dengan hati-hati.
            Masih dengan tatapan menerawang ke depan, Hye Jin sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Chanyeol barusan. Ia lebih memilih diam dan mendengarkan ucapan Chanyeol selanjutnya.
            Karena Hye Jin tidak kunjung menjawab pertanyaan yang ia ajukan. Akhirnya Chanyeol memilih untuk melanjutkan ucapannya saja.
            “Jujur saja aku masih tidak tahu, aku mempunyai salah apa terhadapmu. Sejak pertama kali kita bertemu, mengapa kau selalu saja menghindariku? Aku bahkan sempat berpikir, bahwa pada saat itu ada sesuatu yang aneh diwajah tampanku ini, sampai-sampai kau sering sekali menghindariku” Chanyeol terkekeh geli saat ia mengingat perkenalannya dengan Hye Jin yang begitu memalukan. “Tetapi saat aku bercemin, wajahku ini masih keliatan tampan dan sama sekali tidak ada apa-apa.”
            Chanyeol berucap sembari memandang wajah Hye Jin yang berada disampingnya. Karena tidak ada tanda-tanda Hye Jin membalas ucapannya, Chanyeol pun mulai kesal.
            “Ya! Lee Hye Jin…”
            “Ya! Park Chanyeol” dengan cepat Hye Jin memotong ucapan Chanyeol.
            “Kau sama sekali tidak tahu salahmu dimana?” Hye Jin berucap sembari melihat kea rah Chanyeol yang sedang menatapnya dengan intens.
            Dari jarak seperti ini Chanyeol bisa melihat tatapan terluka dari pandangan mata Hye Jin. Padahal selama ini, Chanyeol selalu melihat tatapan kesal dan marah yang selalu diberikan Hye Jin untuknya. Tetapi sekarang, melihat Hye Jin yang tampaknya sedang terluka membuat hatinya benar-benar teriris.
            Chanyeol hanya bisa membalas dengan anggukan kepala, pertanda ia memang tidak tahu dimana letak kesalahannya. Melihat respon yang Chanyeol berikan, Hye Jin justru tertawa sumbang.
            “Ck, kau benar-benar bodoh Park Chanyeol”
            “Yah benar aku memang bodoh! Jadi bisakah kau beritahu aku dimana letak kesalahanku itu?” Chanyeol bertanya dengan tidak sabaran.
            Hye Jin segera memutuskan kontak matanya dengan Chanyeol dan memandang lurus ke depan lagi. Dengan kesal Chanyeol meraih kedua bahu Hye Jin, yang kemudian ia arahkan ke hadapannya.
            “Hye Jin-ah…”
            “Lepaskan aku!” Hye Jin langsung menghempaskan tangan Chanyeol yang memegang bahunya.
           Tanpa dikomando oleh Hye Jin, air matanya langsung mengalir deras disusul oleh isak tangis yang begitu pilu. Membuat Chanyeol tak kuasa ingin membawa Hye Jin kedalam pelukannya. Namun usahanya sia-sia karena sekali lagi, lengannya di tepis oleh Hye Jin.


*****

            Mobil Chanyeol berhenti tepat didepan gerbang rumah Hye Jin. Sedangkan Hye Jin masih mempertahankan pandangan matanya menatap lurus ke arah depan. Chanyeol yang melihat Hye Jin seperti itu terkekeh gemas, dan langsung mengulurkan tangannya untuk menarik pipi Hye Jin yang sedikit memerah karena kedinginan.
            “Ishh, jangan menarik pipiku seperti itu” ucap Hye Jin menepis tangan Chanyeol dengan kasar.
           “Aigo, kau masih saja pemarah yah chagiya” Chanyeol membalas ucapan Hyejin dengan kekehan andalannya.
            “Apa kau bilang barusan?” Hye Jin memandang Chanyeol dengan tatapan membunuhnya.
            “A…ani, aku tidak bilang apa-apa”
            Kini giliran Hye Jin yang terkekeh melihat nada ketakutan yang keluar dari mulut Chanyeol.

Flashback on
            “Kau!  Apa sebenarnya tujuanmu mendekatiku?” tanya Hye Jin masih dengan mempertahankan isak tangisnya.
            “Hye Jin-ah, aku tidak mempunyai tujuan apapun untuk mendekatimu. Aku benar-benar mencintaimu” Chanyeol menjawab dengan penuh keyakinan.
            “Walaupun wajahku ini mirip dengan orang lain?” Tanya Hye Jin kembali.
            “Apa maksudmu?” Chanyeol menatap Hye Jin dengan bingung. 
            “Walaupun wajahku ini mirip dengan Lee Hye Jung?” teriak Hye Jin
            Chanyeol manampilkan tampang terkejutnya, ketika nama mantan kekasihnya yang telah meninggal itu disebutkan oleh Hye Jin. Bagaimana bisa Hye Jin mengetahui tentang Hye Jung? Selama ini Chanyeol selalu menutup rapat keberadaan Hye Jung yang selalu mengisi hatinya. Karena Hye Jung lah kelemahan terbesar seorang Park Chanyeol.
“Apa Hye Jin masih mempunyai hubungan darah dengan Hye Jung?” pikir Chanyeol.
Sejujurnya, Chanyeol tidak menampik saat ia pertama kali bertemu dengan Hye Jin, ia mengira bahwa Hye Jung masih hidup. Chanyeol juga mengira bahwa Tuhan masih begitu baik padanya sehingga Tuhan mengizinkan Hye Jung untuk hidup kembali, dan membiarkan ia untuk menebus dosa-dosanya selama ini.
Sejak hari itu Chanyeol selalu mengganggu dan mendekati Hye Jin. Saat Chanyeol mengenal Hye Jin lebih dekat, ia mengtahui fakta baru bahwa Hye Jung dan Hye Jin adalah dua orang yang berbeda. Chanyeol juga sempat menarik kesimpulan bahwa, mungkin saja Hye Jin masih ada kaitannya dengan Hye Jung.
Itu dapat ia sangka dari marga dan nama mereka yang hampir mirip. Tetapi setelah ia menyuruh seseorang untuk menyelidiki kehidupan Hye Jin, ia sama sekali tidak menemukan apapun. Hye Jin seperti menutup akses kepada orang lain untuk mengetahui kehidupannya dirinya lebih dalam.
            Masih dengan isakan tangis yang belum juga reda, Hye Jin memilih untuk menceritakan semuanya kepada Chanyeol
            “Lee Hye Jung adalah saudara kembarku. Dia adalah seorang wanita yang baik, cerdas, dan penyayang. Dia merupakan wanita idaman setiap pria yang ada di dunia ini, dan juga menjadi kakak yang terbaik untukku. Kami selalu bertukar cerita setiap hari, entah itu cerita sedih atau senang, kami selalu terbuka satu sama lain…”
Hye Jin menjeda ucapannya untuk mengambil napas sejenak. Sedangkan Chanyeol masih terkejut dengan apa yang dikatakan Hye Jin. Untuk itu, saat ini ia lebih memilih diam, dan mendengarkan kelanjutan ucapan Hye Jin.
            “…puncaknya saat kau menerimanya sebagai kekasih, Hye Jung terlihat sangat bahagia. Dia bahkan bercerita bagaimana perjuangan nya selama ini dalam mendapatkan perhatianmu disekolah. Aku bahkan sempat memakinya karena berani-beraninya sebagai perempuan, dia menyatakan perasaanya terlebih dahulu padamu. Tapi seolah tidak peduli dengan semua makianku, Hye Jung tetaplah Hye Jung yang keras kepala ia tetap ingin mempertahankan hubungannya denganmu. Dan tiba dimana hari kau memutuskannya begitu saja, membuat kebahagian Hye Jung hancur berkeping-keping,”
            Hye Jin menatap Chanyeol dengan kilatan amarah yang begitu tergambar jelas diwajahnya.
            “Saat aku berusaha untuk menemui dan menenangkannya, kau tahu apa yang aku lihat?! Aku melihat sendiri Hye jung tertabrak oleh mobil! Aku sempat ingin menariknya menjauhi mobil itu. Tapi, semuanya terjadi begitu cepat, aku bahkan berfikir semua itu hanyalah mimpi buruk dan aku akan segera terbangun bila fajar sudah datang,”
            “Namun, saat aku berjalan mendekati Hye Jung yang sudah tergeletak tidak berdaya dan mengeluarkan banyak darah, aku…aku…”
            Dengan cepat Chanyeol menarik Hye Jin kedalam pelukannya. Membawa kepalanya untuk bersandar didada bidang Chanyeol. Kali ini Hye jin tidak berontak seperti tadi, karena sejujurnya saat ini Hye Jin benar-benar butuh tempat bersandar. Tidak ada lagi kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulut Hye Jin, yang sekarang Chanyeol dengar hanyalah suara erangan tangisan yang semakin menjadi.
            “Mianhae Hye Jin-ah…Jeongmal mianhae” lirih Chanyeol sembari mengusap kepala Hye Jin dengan lembut
            Chanyeol tidak peduli bila pakaian yang dipakainya saat ini sudah basah karena tangisan Hye Jin. Justru yang saat ini Chanyeol pedulikan hanyalah kebahagiaan Hye Jin kedepannya.

Flasback off

            “Seharusnya kau tidak ikut turun dari mobil juga,” Hye Jin melayangkan tatapan kesalnya pada Chanyeol.
            “kalau didalam mobil aku tidak melihat wajah cantikmu dengan jelas,” Chanyeol malah membalas dengan memberikan senyuman andalanya.
            “Baiklah, Baiklah. Kalau begitu aku masuk terlebih dahulu, mengemudilah dengan hati-hati,” kali ini Hye Jin berbicara sembari memasang senyuman manis diwajahnya.
            “Arraseo,” kekeh Chanyeol.
            Belum sempat Hye Jin membuka pintu rumahnya dengan sempurna, Chanyeol justru menarik tangan Hye Jin dan seketika membuat tubuhnya sekali lagi berhadapan dengan Chanyeol. Dari jarak sedekat ini Hye Jin bisa melihat wajah Chanyeol dengan sangat jelas, bahkan saat ini ia tidak segan mengakui bahwa Chanyeol memiliki wajah yang sangat tampan.
Chanyeol semakin mengikis jarak diantara mereka, mambuat Hye Jin menutup matanya. Hanya tinggal beberpa centi lagi bibir keduanya saling bersentuhan.
“Direktur Park, Lee Hye jin apa yang sedang kalian lakukan?”
Tiba-tiba saja suara seorang pria mengagetkan Chanyeol dan juga Hye Jin, membuat kedua sejoli itu segera menjauhkan wajahnya dan bersikap seolah tadi tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
            Merasa telah mengendalikan sikap. Mereka berdua pun menengok ke arah suara yang memanggil.
“Oppa?”
“Sekretaris Lee?” ucap Chanyeol dan Hye Jin secara bersamaan.
“Mwo! Oppa?” Tanya Chanyeol kaget, langsung menggerakkan kepalanya kearah Hye Jin. Sedangkan Hye Jin hanya  membalas dengan anggukan.
Chanyeol tidak menyangka bahwa sekretaris Lee adalah kakak dari Hye Jin dan juga Hye Jung. Kenapa sekretaris Lee tidak mengatakan apapun padanya? Padahal ia yakin selama ini pasti sekretaris Lee sering melihat foto Hye jung yang selalu terpampang di atas meja kantornya.  
“Wah…Takdir macam apa ini?” gumam Chanyeol pada dirinya sendiri.


TAMAT


Keterangan :
-             Eonni                  : Kakak. Panggilan dari perempuan kepada perempuan yang lebih tua.
-        Oppa              : Kakak. Panggilan dari perempuan kepada lelaki yang lebih tua. Bisa juga berarti sayang, tergantung konteks.
-          Yeoboseyo           : Hallo.
-          Mwo                    : Apa.
-          Waeyo                  : Kenapa (Formal).
-         -ah                  : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan keakraban (tidak formal). Hanya boleh digunakan pada teman sebaya atau yang lebih muda. Untuk nama yang berakhiran konsonan.  
-          Mianhae               : Maaf (informal).
-          -ssi                : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan rasa hormat (formal). Hanya boleh digunakan pada oada orang yang lebih tinggi derajatnya atau kepada orang yang kita hormati.
-          Gamsahamnida      : Terimakasih. 
-          Omo                      : Ya ampun.  
-          Ya!                        : Hei!
-          Ani                        : Tidak, bukan (informal)
-      -nie                    : Partikel yang ditambahkan di belakang nama seseorang untuk menunjukkan keakraban dan kasih sayang.
-          Aigo                     : Aduh.
-          Chagiya                : Sayang.
-          Jeongmal Mianhae : Aku sungguh meminta maaf (informal)

-          Arraseo               : Mengerti

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar